Bab Baru Tanpa Aku

Aku belum selesai mengeja alasan, dia sudah menulis bab baru tanpa jeda, tanpa salam.
Aku tak tahu apakah dia sadar, bahwa ketika dia mulai menatap mata baru itu, aku masih berdiri di titik yang sama, menatap bayangnya yang perlahan kabur dari pandangan -namun tak pernah benar-benar pergi dari ingatan.

Belum genap hitungan luka ini membatu, dia sudah tertawa bersama seseorang yang tak tahu betapa dalam aku menyebut namanya dalam doa-doa yang kini terasa sia-sia.

Baginya, rupanya rindu tak perlu dirawat,
cukup dilipat, diganti, dan ditinggalkan di rak yang paling sunyi.
Sementara aku, masih mengumpulkan serpih hati yang berserakan saat dia memilih pergi.

Dia terlalu cepat, begitu cepat,
seolah kita tak pernah saling percaya, seolah waktu yang kita habiskan adalah semacam angin lewat yang tak perlu dicari arah atau artinya.

Aku tidak iri pada dia,
aku hanya heran-
bagaimana mungkin hatinya berpindah begitu lincah, sementara aku bahkan masih mencoba
menyembunyikan isak dalam diam.

Dia pernah bilang, aku adalah rumah.
Lucu sekali, karena kini dia menempati rumah lain, sementara aku masih membereskan reruntuhan
dari dinding yang dia bakar diam-diam.

Ada kalanya aku ingin marah, ingin berteriak tentang segala janji yang dia khianati,
tapi untuk apa?
Bahkan hatiku sudah terlalu lelah untuk membenci seseorang yang tak lagi memilih tinggal.

Kini, biarlah aku perlahan menyembuhkan diri -tanpa tergesa seperti dirinya,
tanpa harus mengganti luka dengan pelarian bernama cinta baru.

Aku tak membencinya, aku hanya kecewa pada cara semesta yang mengizinkannya melupakan, sementara aku masih mengingat dengan dada yang hampa.

Aku ingin sembuh karena aku layak bahagia, bukan karena aku ingin terlihat baik-baik saja di depannya.
Sebab sesungguhnya, yang benar-benar kuat bukanlah yang cepat berpaling, tapi yang berani tetap sendiri sampai benar-benar pulih.

biarlah dia dengan bahagianya yang baru, dan aku -dengan sisa-sisa dirinya yang tak sempat pamit.
Semoga dia tahu, betapa mudahnya dia beralih
dan betapa sulitnya aku sembuh.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tersesat Sementara, Tapi Tidak Hilang Selamanya

Buku Harian yang Tak Pernah Ditulis Lelaki

Dulu Kau Bab, Kini Aku Buku