Dulu Kau Bab, Kini Aku Buku
Pernah, dalam satu bab hidupku yang penuh warna, ada seseorang yang kuanggap pusat dari semesta. Dialah musim semi yang kutunggu, dialah matahari yang menyinari pagi-pagiku yang kelabu. Kepadanya, aku titipkan harap, kepadanya pula kuberikan hampir seluruh cinta yang kupunya. Namun hidup, sebagaimana takdir yang kerap tak menentu, tak selalu memberi apa yang kita genggam erat. Dia pergi, tanpa pamit yang layak, meninggalkan aku pada malam-malam penuh tanya dan pagi-pagi tanpa semangat. Aku terpuruk. Menangis dalam diam, tersesat dalam bayang-bayang kenangan yang enggan pudar. Kupikir, tanpanya aku tak mampu berjalan. Kupikir, kebahagiaan hanya bisa kutemukan jika bersamanya. Dia pernah jadi bagian dari hidupku, tapi bukan pusatnya. Ia pernah jadi cerita, tapi bukan satu-satunya. Kini aku menulis kisah baru, dengan pena bernama harapan dan kertas bernama kesempatan. Aku mulai menata puing-puing. Kupungut setiap kepingan diriku yang dulu hilang dalam cintanya...