Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2024

Seribu Doa yang Bersuarakan Namaku

Gambar
Bu, biarkan saya menulis lagi tentangmu. Saya bangga menjadi bagian dari belahan jiwamu. Saya bangga menjadi seorang anak yang terlahir dari seorang ibu hebat sepertimu. Bu, terimakasih sudah mengajarkan saya untuk menjadi kuat sendirian, terimakasih sudah memberikan pemahaman bahwa menjadi baik tidak harus dibalas dengan kebaikan juga. Bu, untaian do'a dariku untukmu tidak akan pernah putus. Bu, meskipun saya seringkali buat salah; keinginan kita seringkali tak searah; dan kita sama-sama seringkali merasa lelah; tapi tolong hidup lebih lama lagi. Kau adalah salah satu alasan terbesar saya untuk tak pernah menyerah. Namun maaf, jika saya belum bisa membahagiakanmu sepenuhnya. Terlebih, maaf karena orang yang dipilih semesta untuk menjadi anakmu adalah saya. Sehat selalu ya, Bu. Jangan meninggalkan saya sendirian, karena sampai kapanpun kau akan selalu saya jadikan sebagai tujuan dari kehidupan. Maaf bila peranku sebagai anak belum sempurna dan masih seringkali membuatmu...

Kita di Batas, Aku di Harap

Gambar
Ada yang berbeda darinya. Dia tak pernah menolak, tapi juga tak pernah langsung menyambut. Caranya menjaga jarak terasa begitu halus, nyaris seperti undangan untuk lebih berhati-hati. Dia selalu menarik perhatianku -bukan karena gemerlap, bukan karena lantang, tapi karena tenangnya. Ada sesuatu dalam caranya menjaga jarak, dalam caranya menunduk ketika aku mencoba mendekat, yang justru membuatku ingin lebih mengenalnya. Dia bukan sosok yang mudah membuka diri. Sentuhan kecil saja membuatnya menjauh, seolah berkata, "Aku belum siap." Dan aku mengerti. Ada luka yang mungkin belum sembuh, ada dinding yang dibangun bukan untuk mengusir, tapi untuk melindungi. Saat aku mendekat, dia menunduk. Bukan karena takut, tapi karena dia tahu bahwa perasaan tak boleh disentuh sembarangan. Dia bukan orang yang mudah terbuka, dan justru karena itu, Dia begitu menawan. Ada misteri yang tak bisa dipaksa terbaca. Aku tak ingin menerkanya. Aku hanya ingin menjadi seseorang yang dia iz...

Superhero di Dunia Nyata

Gambar
Ayah, di mataku kau adalah langit - biru, luas, dan tak pernah meminta apa-apa. Kau menampung segala gelisahku, kau redam amarahku dengan diam yang teduh, kau jawab ribuan tanyaku hanya dengan satu senyum yang tenang. Engkau berjalan mendaki waktu, menggendong impian yang bukan lagi milikmu, melainkan milik anak-anakmu. Pundakmu, yang dulu kukira takkan pernah letih, rupanya perlahan rapuh, tapi kau tetap berdiri, seolah lelah tak pernah kenal namamu. Di setiap tetes keringatmu, aku melihat cinta tanpa syarat bukan dari kata-kata manis, melainkan dari sepatu usang yang tetap melangkah, dari tangan kasar yang membangun masa depanku, dari mata yang menahan tangis ketika dunia tak lagi ramah. Ayah, kadang aku lupa, di balik diam dan kerasmu, tersimpan doa-doa kecil yang kau bisikkan pada malam, agar langkahku selalu ringan, meski kakimu kian berat. Kini aku tahu, sejauh apa pun aku melangkah, sebebas apa pun aku terbang, kau tetaplah tanah tempat aku kembali, kau tetaplah lang...