Bab Baru Tanpa Aku
Aku belum selesai mengeja alasan, dia sudah menulis bab baru tanpa jeda, tanpa salam. Aku tak tahu apakah dia sadar, bahwa ketika dia mulai menatap mata baru itu, aku masih berdiri di titik yang sama, menatap bayangnya yang perlahan kabur dari pandangan -namun tak pernah benar-benar pergi dari ingatan. Belum genap hitungan luka ini membatu, dia sudah tertawa bersama seseorang yang tak tahu betapa dalam aku menyebut namanya dalam doa-doa yang kini terasa sia-sia. Baginya, rupanya rindu tak perlu dirawat, cukup dilipat, diganti, dan ditinggalkan di rak yang paling sunyi. Sementara aku, masih mengumpulkan serpih hati yang berserakan saat dia memilih pergi. Dia terlalu cepat, begitu cepat, seolah kita tak pernah saling percaya, seolah waktu yang kita habiskan adalah semacam angin lewat yang tak perlu dicari arah atau artinya. Aku tidak iri pada dia, aku hanya heran- bagaimana mungkin hatinya berpindah begitu lincah, sementara aku bahkan masih mencoba menyembunyikan isak dalam d...