Postingan

Tersesat Sementara, Tapi Tidak Hilang Selamanya

Gambar
Hidup seringkali tak bisa ditebak. Kita merencanakan banyak hal, menata langkah dengan hati-hati, namun kenyataannya tak selalu berjalan seperti yang kita harapkan. Ada jalan-jalan yang membawa kita pada tempat yang tak pernah kita bayangkan. Ada pertemuan yang hangat, juga perpisahan yang diam-diam menyakitkan. Di tengah semua itu, kita belajar. Belajar menerima, belajar melepaskan, belajar bertahan ketika segalanya terasa tak berpihak. Terkadang, hidup terasa seperti pertarungan diam —antara harapan dan kenyataan, antara yang kita inginkan dan yang harus kita jalani. Namun justru dari situlah hidup mendapatkan maknanya. Bukan dari hari-hari yang mudah, tapi dari hari-hari yang membuat kita ingin menyerah tapi memilih untuk tetap bertahan. Bukan dari keberhasilan yang cepat, tapi dari proses panjang yang kita jalani dengan penuh luka dan keteguhan hati. Ada rindu dalam hidup —rindu pada rumah, pada ketenangan, pada orang yang pernah tinggal dalam hidup kita. Tapi hidup ter...

Buku Harian yang Tak Pernah Ditulis Lelaki

Lelaki itu aneh. Kadang begitu kuat, kadang begitu hancur, tapi tak pernah benar-benar menunjukkan kapan ia sedang rapuh, dan kapan ia sedang nyaris menyerah. Ada lelaki yang hidupnya seperti matahari pagi —selalu datang tepat waktu, menyinari tanpa diminta, dan pergi tanpa pamit. Ia tak butuh ucapan terima kasih, cukup tahu semua orang tetap hangat karena kehadirannya. Ada lelaki yang seperti rembulan malam, diam dan jauh, namun selalu hadir meski tak diminta. Ia menerangi hati orang yang bahkan tak tahu sedang diperhatikan. Ia menyembuhkan dalam bisu, menyayangi dalam rahasia. Ada lelaki yang menjadikan ambisi sebagai doa, yang berjalan menembus hujan, membawa sejuta luka dan tawa yang pura-pura. Ia percaya bahwa keberhasilan adalah satu-satunya bahasa cinta yang dipahami dunia. Ada lelaki yang tak pandai berkata manis, tapi rela berdiri di antrean panjang, demi membelikan makanan favoritmu. Ia tak pernah berkata, tapi kamu tahu —ia mencintaimu dalam diam yang tak ingin mengecewakan....

Menangis Tanpa Suara, Berharap pada Cahaya

Gambar
Tuhan... , malam kembali datang tanpa makna, dan aku masih di tempat yang sama— berdialog dengan dinding, berteman bayang-bayangku sendiri, berharap waktu memberi kejutan, tapi yang datang hanya kekosongan. Aku berjalan dalam hari-hari yang hambar, tak ada tawa yang benar-benar tawa, tak ada air mata yang bisa menjelaskan mengapa aku merasa hampa di tengah segala yang katanya penuh warna. Tuhan... , aku bosan pada rutinitas yang menelan jiwa, pada jam-jam yang berlalu seperti arus tanpa arah. Setiap pagi adalah salinan kemarin, setiap malam adalah gema penyesalan yang tak tahu apa yang sebenarnya disesali. Aku bicara kepada-Mu, tapi kadang hatiku menggigil sendiri. Apakah Kau benar-benar mendengar saat aku memanggil-Mu dalam sunyi? Ataukah ini semua ujian untuk membuatku menemukan-Mu dalam cara yang tak biasa? Tuhan... , aku rindu perasaan yang membuncah, yang membuatku merasa hidup, yang membuatku tertawa karena syukur, dan menangis karena cinta. Tapi kini, semuanya datar,...

Ruang Kecil di Kepalaku

Gambar
Waktu terus berjalan, dan kabarnya kini hanya terdengar lewat bisik-bisik semesta. Katanya ia tertawa lebih sering,  katanya ia telah menemukan pelabuhan yang lebih tenang. Dan aku—  masih di tempat yang sama, masih menyulam rindu yang tak tahu harus dikirim ke mana. Aku duduk di antara bayang-bayang yang tak bisa kupeluk,  Aku sering bertanya pada langit,  pada bintang, pada bulan dan pada malam  sunyi yang tak menjawab: Apakah dia sudah bahagia d engan tangan baru yang menuntunnya menembus badai,  dengan mata yang menatapnya seolah ia adalah dunia? Dan… masihkah ia mengingatku? Mungkin kini dia tersenyum untuk seseorang yang bukan aku, menyapa pagi dengan suara yang tak lagi kutahu. sementara jari-jarinya tak lagi sibuk mengetik namaku. Apakah ada sisa dari kisah kita yang masih tinggal dalam dirinya? Atau semuanya telah larut, bersama air mata yang tak pernah kamu tahu aku tumpahkan.  Aku tidak iri. Aku hanya ingin tahu… Apakah ada ruang...

Prosa yang Tertunda, Rasa yang Tak Pernah Usai

Gambar
Ditulis dalam aksara oleh: @ananda_hzr Setelah tidak bersama, aku menyadari ada begitu banyak hal yang ternyata belum aku pahami tentang diriku, dirinya dan kami. Aku jadi menelaah satu persatu awal letak retak, patah, dan salah bermula. Awalnya seperti itu niatku, namun yang kutemui adalah serpihan-serpihan bahagia di antara hal-hal kecil yang dulu kita abaikan. Tersemat sejumput cinta yang tidak bisa di jelaskan, namun jelasnya dulu memang kita saling mencintai. Aku menghakiminya -bahwa dia tidak pernah jatuh padaku. Lagakku seakan hanya aku yang jatuh padanya sendirian, yang punya cinta paling besar seakan paling benar, seperti yang sekarang aku lakukan. Aku memungut satu bagian dimana sorot matanya tidak pernah berubah sekalipun, selalu sama seperti dulu setiap saat dia menatapku. Namun tenggelamku terlalu dangkal untuk memahami makna sebenarnya, tapi bolehkah itu ku artikan cinta? Maksudku sejumput cinta. Serpihan lain menggoresku, tidak -jangan khawatir hanya sedikit ...

Dulu Kau Bab, Kini Aku Buku

Gambar
Pernah, dalam satu bab hidupku yang penuh warna,  ada seseorang yang kuanggap pusat dari semesta. Dialah musim semi yang kutunggu, dialah matahari yang menyinari pagi-pagiku yang kelabu. Kepadanya, aku titipkan harap, kepadanya pula kuberikan hampir seluruh cinta yang kupunya. Namun hidup, sebagaimana takdir yang kerap tak menentu,  tak selalu memberi apa yang kita genggam erat. Dia pergi, tanpa pamit yang layak,  meninggalkan aku pada malam-malam penuh tanya dan pagi-pagi tanpa semangat. Aku terpuruk. Menangis dalam diam, tersesat dalam bayang-bayang kenangan yang enggan pudar. Kupikir, tanpanya aku tak mampu berjalan. Kupikir, kebahagiaan hanya bisa kutemukan jika bersamanya. Dia pernah jadi bagian dari hidupku, tapi bukan pusatnya. Ia pernah jadi cerita, tapi bukan satu-satunya. Kini aku menulis kisah baru, dengan pena bernama harapan dan kertas bernama kesempatan. Aku mulai menata puing-puing. Kupungut setiap kepingan diriku yang dulu hilang dalam cintanya...

Luka yang Berbisik dalam Diam

Gambar
Baru sadar, ternyata diriku sedang dilanda dua penyakit parah yang aku sendiri tidak ingin sembuh darinya, yaitu penyakit bernama cinta dan rindu. Sebab keduanya, aku lumpuh tak berdaya. Tuhan! Sekali lagi, aku tidak ingin sembuh dari dua penyakit ini. la telah berhasil membuaku sakit sedalam rindu. Ternyata, kita sudah tidak punya kesempatan lagi untuk bersama, sebab dirimu pergi dengan sepucuk harapan yang dulu pernah kudamba. Aku masih ingat tentang rencana kita dulu, bahwa kelak kita akan membangun mahligai cinta berdinding bunga-bunga. Namun nyatanya, kini sudah pupus di persimpangan jalan. Aku lumpuh tak berdaya. Sakit? Enggak. Ini kan tentang kebahagiaanmu. Banar adanya; laki-laki sejati adalah dia yang ingin selalu melihat kekasihnya bahagia meski harus bersama orang lain. Bahkan, bila nanti aku tidak lagi menemukan arah, sama sekali aku tidak pernah menyesal mencintaimu. Pernah menaruh rasa pada sosok perempuan indah sepertimu; postur tubuh yang anggun, wajah oval,...