Busur Warna Yang Pernah Bersinar
Matanya, dua danau tenang yang menyimpan badai,
senyumnya seperti musim semi yang membangunkan bunga-bunga mati dalam jiwaku.
Dia tak banyak bicara,
tapi setiap geraknya seperti bait puisi yang tak selesai kutulis.
Langkahnya ringan, namun jejaknya dalam,
meninggalkan kenangan di setiap sudut waktu yang kupijak.
Dia adalah tanya yang tak pernah selesai kujawab,
rahasia yang kutahu tak akan pernah bisa kumiliki.
Namun setiap kali dia hadir, dunia menjadi lebih lambat,
seolah semesta memberi ruang agar aku bisa menikmatinya lebih lama.
Aku mencintainya dalam diam yang paling nyaring,
pada malam-malam yang hanya ditemani desir angin dan harap yang tak sempat kupanjatkan.
Karena aku tahu, dia bukan untuk digenggam,
melainkan untuk dikagumi dari kejauhan, seperti bintang jatuh yang singgah sebentar,
namun cukup untuk mengubah seluruh langit dalam dadaku.
Dan meskipun waktu nanti menggantinya dengan nama yang lain,
aku tahu, ada bagian dalam diriku yang tak pernah benar-benar melepaskannya:
Bagian yang menyebutnya "dia",
dengan segala getar yang tak sempat terucap,
dan cinta yang tak pernah menuntut pulang.
Komentar
Posting Komentar