Superhero di Dunia Nyata
Ayah, di mataku kau adalah langit - biru, luas, dan tak pernah meminta apa-apa.
Kau menampung segala gelisahku, kau redam amarahku dengan diam yang teduh, kau jawab ribuan tanyaku hanya dengan satu senyum yang tenang.
Engkau berjalan mendaki waktu, menggendong impian yang bukan lagi milikmu, melainkan milik anak-anakmu. Pundakmu, yang dulu kukira takkan pernah letih, rupanya perlahan rapuh, tapi kau tetap berdiri, seolah lelah tak pernah kenal namamu.
Di setiap tetes keringatmu, aku melihat cinta tanpa syarat bukan dari kata-kata manis, melainkan dari sepatu usang yang tetap melangkah, dari tangan kasar yang membangun masa depanku, dari mata yang menahan tangis ketika dunia tak lagi ramah.
Ayah, kadang aku lupa, di balik diam dan kerasmu, tersimpan doa-doa kecil yang kau bisikkan pada malam, agar langkahku selalu ringan, meski kakimu kian berat.
Kini aku tahu, sejauh apa pun aku melangkah, sebebas apa pun aku terbang, kau tetaplah tanah tempat aku kembali, kau tetaplah langit yang diam-diam menjaga.
Terima kasih, Ayah. Atas semua luka yang kau tutupi dengan senyum, atas semua letih yang kau sembunyikan di balik candamu.
Namamu akan selalu kuabadikan di setiap langkah, di setiap doa, dalam dada yang tak pernah melupakan.
Komentar
Posting Komentar