Ruang Kecil di Kepalaku

Waktu terus berjalan,
dan kabarnya kini hanya terdengar lewat bisik-bisik semesta.
Katanya ia tertawa lebih sering, katanya ia telah menemukan pelabuhan yang lebih tenang.
Dan aku— masih di tempat yang sama,
masih menyulam rindu yang tak tahu harus dikirim ke mana.

Aku duduk di antara bayang-bayang
yang tak bisa kupeluk, 
Aku sering bertanya pada langit, pada bintang, pada bulan dan pada malam sunyi yang tak menjawab:
Apakah dia sudah bahagia dengan tangan baru yang menuntunnya menembus badai, dengan mata yang menatapnya seolah ia adalah dunia?
Dan… masihkah ia mengingatku?

Mungkin kini dia tersenyum untuk seseorang yang bukan aku,
menyapa pagi dengan suara yang tak lagi kutahu.
sementara jari-jarinya tak lagi sibuk mengetik namaku.
Apakah ada sisa dari kisah kita
yang masih tinggal dalam dirinya?
Atau semuanya telah larut,
bersama air mata yang tak pernah kamu tahu aku tumpahkan. 

Aku tidak iri.
Aku hanya ingin tahu…
Apakah ada ruang kecil yang masih tersisa untukku di kepalanya yang penuh cerita baru?

Masihkah ia ingat caraku mengeja namanya perlahan, seolah tiap hurufnya ingin kupeluk?
Masihkah ia ingat malam terakhir kita, saat kata-kata lebih banyak gugur daripada tumbuh?

Mereka bilang kenangan akan pudar.
Tapi tidak semuanya.
Beberapa membatu dalam dada.
Dan namanya… adalah batu karang
di tengah laut hatiku yang tak pernah benar-benar tenang.

Jika hari ini dia tertawa lebih lepas, tidur lebih nyenyak, dan mencintai tanpa takut kehilangan, maka aku ikut lega.
Tapi tetap, ada bagian dari diriku yang terus bergema,
berbisik perlahan:
Masihkah ia ingat aku?
Bukan sebagai luka, bukan sebagai salah, tapi sebagai seseorang yang pernah mencintainya dengan segenap cahaya yang kupunya saat itu.

Dan jika jawabannya adalah “tidak”…
biarlah aku tetap menjadi bayangan kecil yang tak dia cari, tapi pernah ia lewati.

Dan jika suatu hari nanti, di sela tawa atau sepi yang mendadak datang,
namaku terlintas barang sekejap di benaknya—
itu cukup bagiku.
Cukup tahu bahwa aku pernah ada.
Pernah mencintai, meski akhirnya tak dipilih.

Karena yang paling menyakitkan bukanlah ditinggalkan, tapi dilupakan.
Dan aku hanya ingin tahu, di dunia barunya yang tak kutahu, masihkah ia mengingatku...walau sekali saja?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tersesat Sementara, Tapi Tidak Hilang Selamanya

Buku Harian yang Tak Pernah Ditulis Lelaki

Dulu Kau Bab, Kini Aku Buku