Menangis Tanpa Suara, Berharap pada Cahaya

Tuhan...,
malam kembali datang tanpa makna,
dan aku masih di tempat yang sama—
berdialog dengan dinding,
berteman bayang-bayangku sendiri,
berharap waktu memberi kejutan,
tapi yang datang hanya kekosongan.

Aku berjalan dalam hari-hari yang hambar,
tak ada tawa yang benar-benar tawa,
tak ada air mata yang bisa menjelaskan
mengapa aku merasa hampa
di tengah segala yang katanya penuh warna.

Tuhan...,
aku bosan pada rutinitas yang menelan jiwa,
pada jam-jam yang berlalu
seperti arus tanpa arah.
Setiap pagi adalah salinan kemarin,
setiap malam adalah gema penyesalan
yang tak tahu apa yang sebenarnya disesali.

Aku bicara kepada-Mu,
tapi kadang hatiku menggigil sendiri.
Apakah Kau benar-benar mendengar
saat aku memanggil-Mu dalam sunyi?
Ataukah ini semua ujian
untuk membuatku menemukan-Mu
dalam cara yang tak biasa?

Tuhan...,
aku rindu perasaan yang membuncah,
yang membuatku merasa hidup,
yang membuatku tertawa karena syukur,
dan menangis karena cinta.
Tapi kini, semuanya datar,
seperti lautan tanpa ombak,
seperti langit tanpa bintang.

Kadang aku bertanya—
apakah Engkau merindukanku
seperti aku merindukan-Mu sekarang?
Ataukah ini bentuk kasih-Mu:
membiarkanku merasa sepi,
agar aku tak lagi bergantung pada dunia
yang tak pernah benar-benar memelukku?

Tuhan...,
jika kesepian ini adalah undangan,
ajarkan aku cara menyambut-Mu.
Jika kebosanan ini adalah panggilan,
ajari aku cara menjawab-Mu.

Kuatkan kakiku untuk melangkah
melewati hari-hari tanpa pelita.
Lapangkan dadaku agar tetap percaya
bahwa Engkau tak pernah benar-benar jauh,
bahwa dalam kebosanan pun
ada hikmah yang Kau sisipkan.

Tuhan...,
biarkan aku merasa kecil di hadapan-Mu,
asal Kau peluk aku besar dalam kasih-Mu.
Karena yang kuinginkan bukan jawaban panjang,
hanya sedikit kehangatan,
sedikit kehadiran—
yang membuatku tahu,
aku tak sendirian.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tersesat Sementara, Tapi Tidak Hilang Selamanya

Buku Harian yang Tak Pernah Ditulis Lelaki

Dulu Kau Bab, Kini Aku Buku