Dulu Kau Bab, Kini Aku Buku

Pernah, dalam satu bab hidupku yang penuh warna, ada seseorang yang kuanggap pusat dari semesta.
Dialah musim semi yang kutunggu, dialah matahari yang menyinari pagi-pagiku yang kelabu.
Kepadanya, aku titipkan harap,
kepadanya pula kuberikan hampir seluruh cinta yang kupunya.

Namun hidup, sebagaimana takdir yang kerap tak menentu, tak selalu memberi apa yang kita genggam erat.
Dia pergi, tanpa pamit yang layak, meninggalkan aku pada malam-malam penuh tanya dan pagi-pagi tanpa semangat.

Aku terpuruk.
Menangis dalam diam,
tersesat dalam bayang-bayang kenangan yang enggan pudar.
Kupikir, tanpanya aku tak mampu berjalan.
Kupikir, kebahagiaan hanya bisa kutemukan jika bersamanya.

Dia pernah jadi bagian dari hidupku, tapi bukan pusatnya.
Ia pernah jadi cerita, tapi bukan satu-satunya.

Kini aku menulis kisah baru, dengan pena bernama harapan dan kertas bernama kesempatan.

Aku mulai menata puing-puing.
Kupungut setiap kepingan diriku yang dulu hilang dalam cintanya.
Kutemukan bahwa sebelum dia datang, aku telah utuh.
Dan setelah dia pergi, aku masih bisa menjadi lebih dari itu.

Langkah demi langkah,
aku belajar berdiri tanpa sandaran,
berlari tanpa dikejar mimpi lama,
terbang tanpa harus menunggu siapa pun menjadi sayapku.

Kupelajari banyak hal —tentang dunia, tentang orang lain, tapi yang paling utama, tentang diriku sendiri.
Bahwa aku tak hanya cukup, tapi luar biasa jika aku percaya.

Kini, panggung-panggung yang dulu hanya ada dalam angan, kini kutapaki dengan keyakinan.
Namaku disebut bukan karena siapa yang bersamaku, tapi karena siapa aku sebenarnya.

Dia pernah menjadi bab penting dalam hidupku,
tapi bukan seluruh cerita.
Dan kini, aku menulis halaman-halaman baru dengan tinta kemenangan dan kertas kepercayaan diri dan bayangannya. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tersesat Sementara, Tapi Tidak Hilang Selamanya

Buku Harian yang Tak Pernah Ditulis Lelaki