Rindu Yang Belajar Pulang

Langit tetap biru, tanah tetap setia menopang,
tapi aku, -aku bukan lagi orang yang sama.

Sejak dia memilih untuk menjadi masa lalu, aku menjelma asing bagi diriku sendiri.
Aku menyusuri jalan-jalan asing, menyapa pagi dengan diam yang tak selesai.
Tak ada yang tahu, bahwa di balik senyumku, tersimpan cerita yang tak sanggup kutulis ulang.

Aku singgah di kota-kota yang tak menyapanya, menatap wajah-wajah asing yang tak membawa ingatan, dan belajar tertawa bukan karena bahagia, tapi karena dunia tak akan menunggu luka lama sembuh.

Namun tiap langkah justru menyimpan jejaknya, dalam tatapan orang yang berlalu, dalam suara tawa yang serupa dengannya, dalam wangi senja yang pernah kami bagi.

Langkahku kini sunyi, tapi lebih jujur dari segala janji yang dia ucapkan.
Aku bukan lagi seseorang yang menoleh pada masa lalu, meski hatiku kadang masih tertinggal di sana.

Aku berjalan bukan untuk melupakannya, melainkan untuk menyembuhkan diri dari harapan yang tak pernah dia jawab.

Dulu, dia adalah arah,
kutulis namanya dalam setiap tujuan, kusimpan rindu di balik senyum yang kutahan.
Kini, aku tak lagi menulis namanya di buku perjalanan.

Tapi kadang, aku masih menyelipkan tanya kecil di antara doaku: "Apakah dia sesekali mengingatku?".

Dan bila suatu hari dia mendengar langkah di kejauhan, itu aku, yang masih membawa namanya dalam diam, tapi tak lagi berharap dia menoleh ke belakang.

Kini, aku adalah pengembara yang belajar melepaskan, yang tahu bahwa luka bisa jadi bagian dari perjalanan. Dan walau hatiku masih menyimpan bayanganmu, aku tak lagi mencarimu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tersesat Sementara, Tapi Tidak Hilang Selamanya

Buku Harian yang Tak Pernah Ditulis Lelaki

Dulu Kau Bab, Kini Aku Buku