Luka yang Berbisik dalam Diam
Baru sadar, ternyata diriku sedang dilanda dua penyakit parah yang aku sendiri tidak ingin sembuh darinya, yaitu penyakit bernama cinta dan rindu. Sebab keduanya, aku lumpuh tak berdaya. Tuhan! Sekali lagi, aku tidak ingin sembuh dari dua penyakit ini. la telah berhasil membuaku sakit sedalam rindu.
Ternyata, kita sudah tidak punya kesempatan lagi untuk bersama, sebab dirimu pergi dengan sepucuk harapan yang dulu pernah kudamba. Aku masih ingat tentang rencana kita dulu, bahwa kelak kita akan membangun mahligai cinta berdinding bunga-bunga. Namun nyatanya, kini sudah pupus di persimpangan jalan. Aku lumpuh tak berdaya.
Sakit? Enggak. Ini kan tentang kebahagiaanmu. Banar adanya; laki-laki sejati adalah dia yang ingin selalu melihat kekasihnya bahagia meski harus bersama orang lain.
Bahkan, bila nanti aku tidak lagi menemukan arah, sama sekali aku tidak pernah menyesal mencintaimu. Pernah menaruh rasa pada sosok perempuan indah sepertimu; postur tubuh yang anggun, wajah oval, bibir manis, alis tebal dan kumis tipis-tipis. Duh, alangkah bahagianya orang yang berhasil memilikimu.
Mulai detik ini, aku mengimani tentang model cinta yang tidak untuk dimiliki, namun ia memiliki ikatan batin yang sangat kuat; saling merindu dan mendoakan. Hingga akhirnya ia memilih untuk merindu seumur hidup.
Benar kata Rumi, "Perpisahan hanya bagi orang yang mencintai dengan matanya. Karena untuk orang yang mencintai dengan hati dan jiwanya, tidak ada kata perpisahan". Aku mencintaimu dengan sehabis-habisnya kita.
Aku ingin memelukmu sembari berbisik; terimakasih. Kau adalah patah hati yang takkan pernah kubenci. Tentu, ada banyak hal yang sudah kupelajari darimu, namun ada satu yang telah kulupakan, yaitu cara melupakanmu.
Maaf, kisahku ini tidak seperih kisah Zainuddin dan Hayati dan tidak sepedih cinta Romeo dan Juliet.
Komentar
Posting Komentar