Sebait Cinta di Kelopak Sunyi
Ada bunga yang tumbuh di halaman hatiku, diam-diam, lembut, tak pernah meminta dilihat -tapi selalu menghadap ke matahari.
la tumbuh bukan dari tanah biasa, tapi dari kenangan yang kau tinggalkan, dari tawa yang pernah berakar, dan dari air mata yang sempat membasahi malam.
Setiap kelopaknya adalah huruf, yang jika dibaca satu per satu, menyusun namamu dalam bahasa alam, bahasa yang tak perlu suara, namun cukup dengan tatap dan rasa.
la tak menolak ketika angin datang membawa debu, tak mengeluh saat hujan merobek kelopaknya, karena ia tahu: keindahan sejati bukan tentang bertahan dari luka, tapi tetap mekar meski luka itu ada.
Bunga itu tak pernah meminta musim,
ia mekar meski dihantam dingin, dan tetap berdiri walau dilupakan hujan, karena ia tumbuh bukan untuk dipetik, melainkan untuk tetap ada, selamanya.
Dan jika suatu hari nanti kau lewat dan mencium wanginya, itu bukan undangan untuk memetik, tapi sekadar pengingat... bahwa sekali waktu, ada cinta yang begitu lembut, ia memilih menjadi bunga -agar bisa mencintaimu tanpa harus melukai.
Komentar
Posting Komentar