Jingga Yang Tenggelam
Dan dia bergegas…
Seperti angin yang tiba-tiba sunyi,
seperti lagu yang berhenti di tengah bait paling indah.
Tanpa salam, tanpa alasan yang bisa kusematkan pada logika,
hanya keheningan yang mendadak memekakkan dada.
Dia pergi,
membawa seluruh warna yang dulu ia titipkan di hariku.
Langit tak lagi biru,
matahari pun tampak malas menyapa pagi-pagiku.
Yang tersisa hanyalah kenangan,
yang terus berputar seperti film usang -berulang-ulang, tanpa akhir.
Aku mencarinya di sela waktu,
menyusuri jejak-jejak yang barangkali tertinggal di udara.
Tapi bayangnya pun enggan tinggal lama,
ia datang sekilas -cukup untuk membuatku rindu,
lalu hilang lagi, seperti biasa.
Dan dia pergi,
meninggalkan ruang kosong yang tak bisa diisi oleh siapa pun.
Karena yang hilang bukan hanya dia,
tapi juga bagian dari diriku yang dulu percaya
bahwa cinta cukup untuk membuat seseorang tinggal.
Komentar
Posting Komentar