Prosa yang Tertunda, Rasa yang Tak Pernah Usai
Setelah tidak bersama, aku menyadari ada begitu banyak hal yang ternyata belum aku pahami tentang diriku, dirinya dan kami. Aku jadi menelaah satu persatu awal letak retak, patah, dan salah bermula. Awalnya seperti itu niatku, namun yang kutemui adalah serpihan-serpihan bahagia di antara hal-hal kecil yang dulu kita abaikan. Tersemat sejumput cinta yang tidak bisa di jelaskan, namun jelasnya dulu memang kita saling mencintai.
Aku menghakiminya -bahwa dia tidak pernah jatuh padaku. Lagakku seakan hanya aku yang jatuh padanya sendirian, yang punya cinta paling besar seakan paling benar, seperti yang sekarang aku lakukan. Aku memungut satu bagian dimana sorot matanya tidak pernah berubah sekalipun, selalu sama seperti dulu setiap saat dia menatapku. Namun tenggelamku terlalu dangkal untuk memahami makna sebenarnya, tapi bolehkah itu ku artikan cinta? Maksudku sejumput cinta.
Serpihan lain menggoresku, tidak -jangan khawatir hanya sedikit goresan. Aah, ini bagian dimana jemarinya memperbaiki anak rambutku saat dia sedang menjelaskan sesuatu mencoba membuatku memahami setiap sudut pandangnya dengan bahasa yang ku mengerti. Air mataku berhasil lolos dari mata kananku menyisakan binar berkaca di mata kiriku. Lembab, aku mulai memejamkan mata menangkup tangan kananku di pipi kiri merasakan tangannya menenangkanku.
Panggilan lembut namaku dengan suaranya mulai menggema di telingaku. Lanjutan sebuah kalimat memintaku untuk melihatnya -aku sesenggukan.
"Tuhan, aku sungguh merindukannya."
Kuurungkan kata-kata mengalir dari jemariku, aku tidak bisa terus tenggelam dalam angan-angan ini. Aku menggantung penggalan prosa yang tadinya ingin kutulis panjang. Namun, sebaiknya kuurungkan sampai dia datang.
Komentar
Posting Komentar