Kita di Batas, Aku di Harap

Ada yang berbeda darinya. Dia tak pernah menolak, tapi juga tak pernah langsung menyambut.
Caranya menjaga jarak terasa begitu halus, nyaris seperti undangan untuk lebih berhati-hati.

Dia selalu menarik perhatianku -bukan karena gemerlap, bukan karena lantang, tapi karena tenangnya.

Ada sesuatu dalam caranya menjaga jarak, dalam caranya menunduk ketika aku mencoba mendekat, yang justru membuatku ingin lebih mengenalnya.

Dia bukan sosok yang mudah membuka diri. Sentuhan kecil saja membuatnya menjauh, seolah berkata, "Aku belum siap." Dan aku mengerti. Ada luka yang mungkin belum sembuh, ada dinding yang dibangun bukan untuk mengusir, tapi untuk melindungi.

Saat aku mendekat, dia menunduk. Bukan karena takut, tapi karena dia tahu bahwa perasaan tak boleh disentuh sembarangan.

Dia bukan orang yang mudah terbuka, dan justru karena itu, Dia begitu menawan. Ada misteri yang tak bisa dipaksa terbaca.

Aku tak ingin menerkanya. Aku hanya ingin menjadi seseorang yang dia izinkan hadir dalam diam. Menemaninya di batas yang dia tetapkan, menunggu sampai dia percaya bahwa aku bukan ancaman.

Dia membuatku ingin mencinta tanpa tergesa. Menghargai ruang, memberi waktu. Karena dengannya, aku belajar: cinta sejati tidak mengetuk pintu dengan keras, tapi duduk di ambang, menunggu dengan sabar hingga pintu itu terbuka sendiri.

Jika butuh waktu, aku akan menunggu.

Jika butuh diam, aku akan menjadi hening yang tak menuntut. Karena dia bukan untuk dimiliki cepat-cepat. Dia adalah keindahan yang hanya terbuka untuk hati yang sabar

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tersesat Sementara, Tapi Tidak Hilang Selamanya

Buku Harian yang Tak Pernah Ditulis Lelaki

Dulu Kau Bab, Kini Aku Buku